Kamis, 03 Apr 2025
Home
Search
Menu
Share
More
Juli kamalludin pada Berita
29 Mar 2025 12:27 - 5 menit reading

Korban Gempa Myanmar-Thailand Capai 700 Orang, Tim SAR Masih Mencari Korban

Gempa bumi berkekuatan besar mengguncang kawasan perbatasan Myanmar dan Thailand pada Rabu, 28 Maret 2025, mengakibatkan korban jiwa yang sangat tinggi dan kerusakan parah di beberapa wilayah. Hingga saat ini, korban tewas dilaporkan mencapai sekitar 700 orang, dengan ratusan lainnya terluka dan terperangkap di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Tim SAR (Search and Rescue) dari kedua negara, bersama dengan bantuan internasional, terus berupaya keras untuk mencari korban yang masih terperangkap dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

Rangkaian Kejadian Gempa dan Dampaknya

Gempa berkekuatan 7,8 skala Richter ini terjadi pada pukul 10:15 waktu setempat, dengan pusat gempa terletak di wilayah perbatasan antara Myanmar dan Thailand, sekitar 200 km dari ibu kota Naypyidaw, Myanmar. Pusat gempa diperkirakan berada pada kedalaman 10 km di bawah permukaan bumi, yang membuat guncangannya terasa sangat kuat di kedua negara tersebut.

Kekuatan gempa yang besar ini menyebabkan kerusakan parah, terutama di kota-kota besar yang berada di dekat episentrum gempa, seperti kota Mae Sot di Thailand dan kota Myawaddy di Myanmar. Bangunan-bangunan bertingkat, rumah penduduk, serta infrastruktur seperti jalan raya dan jembatan mengalami kerusakan hebat. Di beberapa daerah, sebagian besar bangunan runtuh akibat getaran gempa, menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.

Jumlah Korban dan Upaya Penyelamatan

Hingga Kamis pagi (29 Maret 2025), laporan sementara menunjukkan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 700 orang. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan terluka dan masih banyak yang belum ditemukan. Pihak berwenang dari Myanmar dan Thailand bekerja keras untuk mengevakuasi korban yang selamat dan melakukan pencarian terhadap mereka yang masih terperangkap di reruntuhan.

Di lapangan, Tim SAR yang terdiri dari pasukan lokal dan internasional, termasuk tim dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Palang Merah, terlibat dalam upaya penyelamatan. Mereka menggunakan alat berat seperti ekskavator dan alat pemotong untuk menggali reruntuhan bangunan, sambil tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat memicu lebih banyak kerusakan.

Namun, medan yang sulit dan cuaca yang tidak mendukung menjadi tantangan besar dalam upaya penyelamatan ini. Tim penyelamat juga harus menghadapi ancaman adanya longsor di beberapa lokasi yang terdampak gempa.

Kerusakan Infrastruktur dan Bantuan Internasional

Kerusakan infrastruktur di kedua negara sangat parah. Banyak jalan utama yang menghubungkan wilayah perbatasan antara Myanmar dan Thailand hancur, sehingga menghambat distribusi bantuan dan proses evakuasi. Selain itu, banyak rumah penduduk yang roboh, menyisakan keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah Thailand dan Myanmar telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk memberikan bantuan kepada para korban. Di sisi lain, berbagai negara dan organisasi internasional juga turut serta memberikan bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, dan tim medis. Beberapa negara, termasuk Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat, telah mengirimkan bantuan tenaga medis dan barang-barang kebutuhan darurat untuk mendukung upaya pemulihan.

Di tengah situasi yang sangat sulit ini, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal mencari perlindungan di pos-pos evakuasi yang disiapkan oleh pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan. Bantuan logistik dan medis sangat dibutuhkan untuk mencegah penyebaran penyakit yang sering kali muncul setelah bencana besar seperti ini.

Gempa Susulan dan Potensi Ancaman Lanjutan

Meski gempa utama sudah terjadi, para ahli geologi memperingatkan adanya potensi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar. Hal ini membuat tim penyelamat harus bekerja dengan sangat hati-hati, terutama dalam mengakses area yang sudah rusak parah. Gempa susulan dapat menyebabkan keruntuhan lebih lanjut pada bangunan yang sudah rapuh, memperburuk keadaan di lapangan.

Beberapa daerah yang lebih jauh dari pusat gempa, seperti Chiang Mai di Thailand dan Mandalay di Myanmar, juga merasakan dampak dari guncangan tersebut. Meskipun kerusakan di daerah-daerah ini tidak sebesar di daerah terdekat dengan pusat gempa, beberapa bangunan mengalami kerusakan ringan hingga sedang.

Reaksi Dunia Internasional

Kejadian gempa ini menarik perhatian komunitas internasional yang turut mengungkapkan rasa duka cita dan solidaritas terhadap korban bencana. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, mengeluarkan pernyataan yang menyatakan belasungkawa mendalam kepada rakyat Myanmar dan Thailand. PBB juga berjanji untuk menyediakan bantuan darurat bagi korban bencana di kedua negara tersebut.

Banyak organisasi kemanusiaan, termasuk Palang Merah dan Médecins Sans Frontières (Dokter Tanpa Batas), juga mengerahkan tim mereka ke lokasi bencana untuk memberikan pertolongan medis dan membantu upaya pencarian serta penyelamatan.

Tantangan Pemulihan dan Harapan ke Depan

Bencana ini bukan hanya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga yang kehilangan orang tercinta, tetapi juga menimbulkan tantangan besar dalam hal pemulihan. Infrastruktur yang rusak, banyaknya korban yang terluka, serta kondisi cuaca yang tidak mendukung, menjadi hambatan besar dalam mempercepat proses pemulihan.

Meski demikian, harapan tetap ada. Tim SAR yang terdiri dari relawan dan pasukan penyelamat terus bekerja tanpa kenal lelah, berusaha mengeluarkan korban dari reruntuhan dan memberikan perawatan kepada mereka yang membutuhkan. Pemerintah kedua negara, bersama dengan komunitas internasional, juga memastikan bahwa bantuan akan terus disalurkan untuk meringankan beban para korban.

Kehidupan di daerah yang terdampak gempa perlahan mulai berangsur-angsur pulih, meski tantangan besar masih ada. Para ahli geologi juga terus memantau potensi gempa susulan, memastikan masyarakat tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Kesimpulan

Gempa besar yang melanda kawasan perbatasan Myanmar-Thailand pada 28 Maret 2025 telah menyebabkan kerusakan yang luar biasa, dengan lebih dari 700 orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka. Tim SAR dari kedua negara, dibantu oleh organisasi internasional, terus berjuang untuk menyelamatkan korban yang masih terperangkap. Meskipun tantangan besar menghadang, solidaritas dan bantuan internasional memberikan harapan bagi pemulihan dan rekonstruksi di daerah yang terdampak. Di tengah duka ini, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap hidup melalui upaya dan kerja keras banyak pihak.